INDONESIA DARURAT PERSEKUSI


Ilustrasi: Diambil dari Liputan6.com

Beberapa hari belakangan, kembali lagi marak kasus Persekusi terhadap beberapa orang yg tidak  hanya menimpa mereka yg merupakan pendukung partai oposisi, tapi juga mereka yg menyuarakan penggatian sistem. Penghadangan dan pembubaran semakin gencar dilakukan dengan alasan melaksanakan aktivitas politik diluar masa kampanye, dan tuduhan yg bahkan lebih ekstrim dari Itu, makar terhadap negara karena menyuarakan ideologi diluar Pancasila.


Disatu sisi, upaya peningkatan elektabilitas terselubung justru dilakukan oleh pihak pendukung petahana. Adanya beberapa baliho yg dipasang tidak pada waktunya, bagi2 "permen politik" saat kunjungan dinas negara, sampai iklan tentang pencapaian pun disodorkan ditempat yg pada dasarnya merupakan area milik publik yg bersifat berbayar dan tidak layak disusupi hal demikian.

Keterlibatan penegak hukum pun sepertinya menjadi hal yg sia-sia.
Seperti yg nampak dalam beberapa video yg beredar di media sosial, keberadaan polisi sama sekali tidak berusaha untuk melerai ataupun sekedar menenangkan Pelaku Persekusi, semakin menguat kan dugaan bahwa penegak hukum pun turut menjadi bagian dari pendukung tindakan demikian.

Tentu ini merupakan tamparan keras bagi wajah demokrasi yg selalu membanggakan musyawarah mufakat didalamnya. Terlebih, Indonesia yg merupakan negara hukum seperti bertansformasi menjadi negara kekuasaan (Rechstaat) dimana setiap orang yg memiliki hubungan mesra dengan penguasa bebas melakukan tindakan main hakim sendiri.

Maka tak heran, standar ganda pun selalu menjadi win-win solution dalam negara yg bersistem Demokrasi. Kebenaran akan selalu menjadi milik penguasa.

Akhirnya, tak heran jika saat ini kita melihat perlawanan yg cukup keras dari masyarakat yg merasa terdzalimi. Tidak sedikit bahkan yang rela dan pasrah dengan berbagai kebijakan yg ada saat ini. Kenaikan harga di sektor ekonomi, contoh nya saja tarif listrik bersubsidi ternyata juga naik diam-diam, BBM bersubsidi dan non subsidi yg harga nya beberapa kali sempat tidak stabil sehingga berdampak pada biaya operasional yg tentu memicu kenaikan harga  harga komoditas bahan pokok dipasaran, hingga kasus yg terakhir menguatnya dollar yg berdampak pada pembatasan Import.

Belum lagi di sektor lain, kesehatan misalnya. Menumpuk nya jumlah tagihan atas pembayaran jasa dokter yg belum dibayar kan oleh BPJS semakin mempersulit keadaan, hingga tak ayal kasus dokter hingga rumah sakit yg tidak mau melakukan pelayanan berdampak pada masyarakat itu sendiri. Lalu bagaimana dgn sektor lain? Sebuah pertanyaan besar yg harus nya menjadi evaluasi besar-besaran bagi rezim yg ada saat ini.

Pemerintah harus nya lebih muhasabah diri atas pencapaian nya dengan tidak hanya melihat dari seberapa banyak yg telah dibangun. Tapi lebih dari itu, bagaimana selama pemerintahan nya menciptakan situasi yg kondusif yg mampu dirasakan semua pihak. Bukan justru menimbulkan potensi ujaran kebencian, ataupun gesekan panas antar masyarakat.

Lebih dari itu, pemerintah seperti nya tidak berkaca pada kegagalan sistem demokrasi yg ada saat ini. Sistem buatan manusia yg telah secara nyata nampak kerusakan nya. Sebuah pertanyaan besar, mengapa kita masih tetap bertahan pada sistem yg telah terbukti menyengsarakan. Bukankah Allah SWT telah memberikan kita alternatif solusi yg dijamin akan memberikan maslahat bagi setiap manusia.

أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. "

Atau dalam ayat lain
إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ
فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS Al-Maidah ayat 48)

Demikian jelas Jalan yg diberikan Allah SWT kepada kita manusia dalam pengaturan kehidupan. Siapakah yg lebih tahu tentang kita manusia daripada Allah?

Tapi apalah daya, bagi mereka yg menyuarakan syariat Islam, akan selalu bertemu jumpa dg mereka yg bersuara bahwa Sistem Islam = Anti Pancasila. Itulah kelucuan yg turun menurun dan menjadi penyakit yg perlu disembuhkan.

Copyright @visitrahma.2018

Komentar