TENTANG MENIKAH

 

Bismillahirrahmanirrahim

Judul nya agak laen yah? Hehe. Sedikit horror bagi Seorang penulis "yang alhamdulillah masih single" mengangkat tema demikian dalam Tulisan ini.

Sebenarnya, aku sendiri adalah tipikal mahluk yang tidak mau riuh dengan sesuatu yg sudah menjadi "ketetapan" dari yang Maha kuasa. Menurutku, rezeki, maut, Dan jodoh, ketiga-tiga nya harus diperlakukan se-adil adilnya.

Jika dalam hal maut Kita yakin 100% bahwa Allah yang menentukan, demikian pula dengan rezeki bahwa ia tidak akan pernah tertukar, tapi mengapa jika berkaitan dengan jodoh kita malah cemas  was-was ataupun gelisah? Bukankah ketiga-tiganya adalah ketetapan Allah? Jika Kita cemas, berarti kita meragukan Allah sebagai sang pengatur urusan kita? 

Mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya juga demikian. Faktanya tak sedikit yang merasa khawatir bukan karena ketidakyakinannya terhadap Allah sang Maha menentukan. Tapi bisa jadi Karena faktor lain seperti desakan sosial dari orang-orang sekitar seperti keluarga, teman, dan sebagainya, yang secara tidak lansung membuat patokan usia tertentu sebagai "waktu" ideal seseorang menikah.

Dalam perspektif ku sendiri, menikah itu adalah sesuatu yang sangat sakral dan merupakan amanah besar. Bukan hanya sekedar mencari partner hidup, tapi tentang pengalihan tanggung jawab Dunia dan akhirat. Saat sang lelaki telah mengucap kalimat "Saya terima nikahnya si fulana binti fulan..." maka saat itu juga peralihan tanggung jawab yg selama ini di pikul oleh ayah sang wanita, seketika menjadi beban dan tanggung jawab suaminya. Bisa anda bayangkan? Menanggung beban sendiri saja rasanya sulit, lalu bagaimana jika ditambah dengan tanggung jawab atas hidup orang lain?

Demikian pula sebagai wanita, saat ia telah menjadi hak suaminya, maka jangan lagi berfikir untuk bisa pulang pergi seenak hatinya. Berfikir hanya tentang dirinya. Mengapa? Karena saat itulah ia wajib tunduk patuh dan memohon izin suaminya atas hal-hal tertentu yang digariskan agama. Karena ridho Allah atasnya tergantung ridho suaminya atas dirinya.

Bagi sebagian orang, menikah semata ingin hidup bersama, punya partner dalam segala hal, memiliki keturunan, dan lain sebagainya. Tapi bagi saya sendiri, menikah lebih dari itu.

Rasulullah saw bersabda bahwa menikah adalah Sunnah nya untuk menggenapkan sebagian agama.
Artinya, pernikahan sejatinya adalah ibadah. Jika ia ibadah bukankah harus dikerjakan dengan baik dan benar. Lalu bagaimana mengerjakannya dg baik dan benar? Jawabannya tentu dengan adanya Ilmu.

Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan "didiklah anakmu 20 Tahun sebelum ia lahir kedunia". Artinya apa? Untuk menghasilkan generasi yang terdidik, maka bukankah ibu dan ayah si anak harus terlebih dahulu yang terdidik? Lalu apa jadinya jika kedua orang tuanya tidak memiliki bekal ilmu?

Mari kita melihat kondisi sosial kita sekarang ini. Meningkatnya angka perceraian setiap tahun yang secara statistik menunjukkan rentan usia pernikahan itu baru beberapa bulan saja. Faktornya banyak. Ada karena ekonomi, perselingkuhan, perbedaan prinsip, dan lain-lain. Demikian juga pula dengan problematikan rumah tangga yang lain seperti anak.

Betapa banyak nya anak-anak hari ini yang "terlantar" pendidikan akhlak nya karena absen nya peran ibu dan ayah di dalamnya. Ayahnya sibuk mencari nafkah, ibunya pun demikian. Si anak 24 jam berteman dengan teknologi tanpa kontrol orang tua. Orang tuanya merasa telah berhasil saat sudah memenuhi hak anaknya dg menyekolahkan di tempat terbaik, padahal si anak bisa jadi miskin kasih sayang kedua orang tuanya. Tentu ini ironi, Bukan?

So kesimpulannya, menikah, it's not about a short celebration for a couple to live together. It's a long journey. Menikah mungkin mudah saja. Pestanya mungkin sehari Dua Hari saja. Tapi tanggun jawab pernikahan itu hingga di akhirat kelak. Maka menjemputnya harus dengan kesiapan. Kesiapan ilmu, mental, dan juga finansial.

Banyak yang menunda atau belum menikah meski telah sanggup lahir, batin, mental, dan materilnya karena alasan karir maupun studi. Menurutku, itu adalah pilihan individu tersebut. Sunnahnya, jika telah mampu yah segerakan, kalau belum mampu yah memantaskan diri agar tidak mendzolimi pasangan nantinya. Dan sekali lagi, menikah bukan tentang bisa tidak bisa nya. Itu adalah Takdir Allah yang telah digariskan untuk hambanya di waktu yang tepat.

Rasulullah saw bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {التَّزْوِيْجُ بَرَكَةٌ وَالْوَلَدُ رَحْمَةٌ فَأَكْرِمُوْا أَوْلَادَكُمْ فَإِنَّ كَرَامَةَ الْأوْلَادِ عِبَادَةٌ}.
Nabi saw. bersabda, “Pernikahan itu keberkahan dan anak itu rahmat, maka muliakanlah anak-anak kalian, maka sesungguhnya memuliakan anak-anak itu ibadah.” 
Atau dalam hadits lain:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {النِّكَاحُ سُنَّتِيْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ}.
Nabi saw. bersabda, “Nikah itu sunnahku, siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka ia tidak mengikuti jalanku.”
Intinya, jika telah sanggup menikah, menikahlah. Jika belum mampu, berpuasa dan memantaskan diri adalah subtitusinya. Luruskan niat karena Allah, bukan karena desakan keluarga apalagi tetangga. 

Dan bagi yg telah menikah, jalanilah dengan sebaik-baiknya. Minta perlindungan pada yang Maha kuasa agar rumah tangganya senantiasa dijaga dalam sakinah, mawaddah, warahmah.

Terakhir, pesan untuk kaum nyinyir yang tidak paham masalah takdir. Jangan pernah menghina atau mengucilkan mereka yang masih sendiri. Karena bukan berarti mereka yang masih sendiri tidak mau menikah, bisa jadi mereka telah berikhtiar namun memang Allah telah menentukan kepada siapa dan kapan ia akan dipertemukan.

Penutup
Kita takkan pernah tau, siapakah yang terlebih dahulu menjemput. Apakah sang jodoh, atau justru sang maut. Think about it. 😔

Copyright @visitrahma.2020

Komentar

Postingan Populer