SECANGKIR CAPPUCCINO MAHASISWA SEMESTER AKHIR
It’s 10.02 a.m.
Aku coba buka jadwal dosen yang dikirim teman minggu lalu. Harusnya sih hari ini udah konsultasi pertama, but yah, dasar mahasiswa tingkat akhir yang penyakitnya malas gerak, akhirnya ku tunda lagi, tunda lagi.
Ku lihat jam, dan ternyata, it’s 10.02.
Aku lihat jadwal dosen di pesan whats app. “Hari selasa 8.40 – 10.25. Hari kamis, jam 08........... What ???????? ”, teriak ku sambil bangkit dari pembaringan. Hari ini hari selasa, artinya kalau gak konsul ini hari, berarti aku harus nunggu lagi hingga hari kamis. Ah,... gak bisa nih. Pasti bakalan makin lama konsulnya sedangkan jadwal ujian makin mendekati hari H. Sebenarnya diriku itu tipikal manusia yang gak suka delay sesuatu. Tapi entah mengapa semenjak berurusan dengan tugas akhir, aku jadi malas gerak buangeeeettttt.
Entah karena penelitian ku yang sok-sok an ambil kualitatif, karena stuck merumuskan bab findings and discussion, atau karena diriku yang dari kemarin mikirin project di bulan satu yang akan datang. I do not know. Yang pastinya, semakin ku menunda, semakin besar konsekuensinya. Padahal impian ku sekarang ini bukanlah dapetin kerja, lulus dengan predikat cum laude, atau bla-bla-bla. Aku selesai ujian, trus lulus, Alhamdulillah, segitu aja udah bersyukur.
Ilustrasi: Diambil dari pixabay.com
Padahal waktu di semester awal kuliah, mendapatkan ipk sempurna itu adalah salah satu ambisi ku banget. Aku sampai bela-belain duduk di depan tiap mata kuliah, aktif bertanya pada dosen sehingga kelas itu rasanya milik ku seorang, persiapkan presentasi sampai begadang semalaman, kritis dalam diskusi sampai baper nya suasana diskusi kubawa sampai pulang kerumah. Nah, kurang semangat apa lagi coba.
But, sekarang, entahlah.
Ok. Balik lagi ke jadwal konsultasi skripsi ku. Sekarang udah jam 10.02, dan itu artinya aku masih punya waktu 23 menit lagi. So, ku putuskan ganti baju, trus meluncur ke kampus. Aku udah gak peduli lagi sama bedak dan model kerudung. Asal aurat gak keliatan, sambar aja udah. Finally, gua akhirnya sampai di tempat printing yang “dulunya” langganan ku. I know this place may not be recomended buat kalian yang sangat menjaga kebersihan flashdisk dari virus.
Aku suka tempat ini karena menurutku ini salah satu tempat printing yang lumayang “friendly” buat kantong mahasiswa kayak diriku. Hanya saja entah mengapa hari ini aku kagak beruntung aja. Tiba-tiba flashdisk ku terinfeksi virus yang ganasanya itu Subhnallah, unbeatable.
Akhirnya karena ditempat ini ada beberapa laptop, kucoba lagi di pc yang lainnya. Bad luck emang, gak bisa kebaca coy. “hahahaha, good bye skripsi koeh “. Aku sempat kesel gitu, pas tahu semua folder itu bertransformasi menjadi shortcut.
Weowwww. “Oh my, I have got no more time to scan these files”. Then, seorang mbak pegawainya ngomong. “Sini mbak, biar saya print kan”, tawar mbak baik hati nan cantik itu. “Gak usah kak, tadi sudah saya coba di kedua laptop ini tapi useless kayaknya, soalnya file saya sudah berubah jadi short-cut”, jawab kudengan ekspresi pasrah berharap ada keajaiban.
Embak pegawai itu Cuma tersenyum tipis sambil ngelanjutin pekerjaanya. And I know, senyuman itu berarti dia pun juga tahu kalau flashdisk ku udah gak bisa diselamatkan lagi. “Ya udah, mungkin ini ada pelajarannya”, ucap ku dalam hati sambil menghela nafas.
Sampai di depan, aku mikir donk yah, kira-kira aku mau nge-print halaman berapa yah? Soalnya tadi niatnya mau print dari halaman 1 gitu loh. Aku buka tuh map batik kesayangan emak (map ini pemberian beliau, suruh rawat baik-baik, padahal mah di ATK juga banyak di jual). Aku buka map itu, dan nemuin skripsi yang ternyata udah ku print dari halam 1-53. What the.................? ๐ค๐ซ
Hampir lah diriku melakukan hal yang tidak berfaedah. Ternyata, aku cuma perlu nge-print ulang beberapa halaman yang udah direvisi (yah mungkin sekitar 4-5 halaman) ditambah appendix.
Tanpa berfikir panjang, aku tancap motor ke gedung T. Tempat perkuliahan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa inggris, arab, islam, dan sejarah kebudayaan islam. Ku lihat jam, and now, it’s 10. 45 a.m. Dririku telat pemirsa........................ hiks.....hiks..... (nangis nya dalam hati).
Dengan ekspresi tak terbentuk, aku jalan keluar gedung dan kepikiran untuk nyari pak dosen di ruangannya. Akhirnya aku pun kesana.
Aku beerlari sampai trouser ku kelihatan sebagian. Hah....bodo amat. Aku bergegas naik ke lantai dua. Mahasiswa lain pada ngelihatin gitu. Tapi diriku cuek aja lewat depan mereka. Sampai diruangannya, ku buka pintu sambil ngucapin salam. Ternyata didalam ruangan itu ada tiga orang cowok yang menurut ku sih mereka pegawai lab itu soalnya pakaian mereka agak formal dan sedikit berbeda dari mahasiswa umumnya.
“Assalamu alaikum. Maaf kak, pak amzahnya ada?”, tanya ku sambil sedikit ngos-ngosan.
“Maaf dek, Bapak lagi ngajar di gedung T”, jawab salah seorang dari mereka. “Oh,..iya pak”, jawab kusingkat.
What the (2)..........................????? ๐๐ฉ
Aku menutup pintu dengan pelan dan lansung mengeluarkan jurus mengamuk ala Aang di film avatar. ๐
“Ya udahlah. Nasib ku hari ini. syukurin aja”.
Akhirnya, aku gak jadi konsultasi. Aku pun memutuskan untuk pulang.
Siang hari nya aku mandi terus shalat duhur. Nah, Selesai shalat duhur, niatnya sih baca-baca Al-qur’an nungguin ashar sambil sleeping awake gitu lah. Baru baca 3 ayat terjemahan, eh.... tau-taunya ketiduran dan bangun pas udah asar. Oh... man....... Udah jam 4 aja.
Abis shalat, aku jadi kepikiran untuk ke warnet langganan untuk mem-format abis flashdisk yang penuh dosa virologi ini. Aku soalnya gak bisa langsung colok nih flashdisk ke laptop. Ntar error', skripsi ku bisa-bisa tinggal kenangan.
Akhirnya diriku capcus dah tu. On the way, aku mikir. Sekarang kan baru jam lima, diriku pun kayaknya pengen ngemil yang manis-manis gitu. Apa aku cari makan atau kopi dulu aja yah. Akhirnya aku memutuskan ke cafe tempat nongkrongnya mostly mahasiswa-mahasiswa di kampus ku.
Entah apa daya tarik cafe ini sehingga bisa jadi tempat yang sering dikunjungi teman-teman angkatan, senior, dan junior.
Aku buka lah smartphone, dan cari alamat tempat itu lewat gugel maps. Hahaha.... ๐diriku memang native alias asli orang parepare. Tapi aku itu tipikal manusia goa yang mood-mood an gitu kalau mau keluar rumah. Makanya tidak semua tempat terkenal di kota ini aku tahu. Eventhoght punya kendaraan yang bisa kupakai muter-muter kota ini kapan aja aku mau, tapi males aja gitu keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
Singkat cerita, ketemulah tempatnya. Aku screening dulu pengunjungnya siapa saja. Alhamdulillah gak semua pengunjung cafenya itu cowok. Aku masuklah ke cafe itu. Karena ini first experience ku ngopi di cafe dan sendiri, akhirnya pas nyampe, aku nggak lansung memesan minum.
Aku amati dulu lingkungan sekitar. “Ok...kayaknya semua orang disini pada sibuk dengan laptop dan smartphone nya”. Entah mereke ke cafe untuk ngopi sambil wifi-an atau wifi-an sambil ngopi, entahlah.
Aku balik badan sedikit and ketemu seseorang yang nggak asing. Senior sekaligus Dosen ku. “Hmmmm....” tiba-tiba diriku jadi uncomfortable. ”Ah, dia mah orangnya santai-santai aja. Dan belum tentu juga dia kenal aku, iya kan”, ucap ku dalam hati sambil berusaha nyari tahu cara mesan makanan di cafe ini gimana yah.
Waitersnya gak ada, List menunya juga gak kelihatan. Mau nanya juga canggung. Dan jadilah diriku manusia batu di meja, berusaha ngotak-atik tas walaupun sebenarnya aku gak nyari apa-apa.
Hahaha.. gak jelas.
Aku coba buka hape, siapa tau bisa connect ke wifi-nya secara otomatis. Dan ternyata, wifi-nya ter-kunci pemirsa. Dan itu artinya aku harus nanya.
Akhirnya aku ke meja kasir untuk memesan minuman. “ada latte gak kak”, tanya ku yang sok-sok an mau minum latte padahal ngerasain latte aja gak pernah.
Hanya karena di tivi-tivi sering dengar orang memesan latte kalau mereka di cafe gitu jadinya aku ikut-ikutan memesan latte. “srekk....srekkkk”. suara mas kasirnya kurang jelas gitu.
Entah tadi itu dia bilang ada, atau ngga ada. Akhirnya ku putuskan memesan cappucino yang harganya lumayan murah lah. “Tapi makanannya belum ready”, jawab mas nya merespon orderan ubi goreng ku. “Ya udah, cappucino aja satu”.
Akhirnya aku kembali tuh ke tempat duduk.
Pemandangan disini sebenarnya cukup bagus. Cuman agak sedikit terganggu dengan sanitasi air yang ada didepan cafe. But so far, cafe ini kayaknya bakalan jadi tempat ngeceng favorit ku deh. Soalnya walaupun aku sendiri tapi tempat ini tetap asik kok.
Aku nungguin pesanan kopi sambil membaca buku yang minggu lalu kubeli. Judul bukunya “Register Bahasa”. Dari judulnya bisa kita tebak kalau isinya itu adalah pembahasan tentang salah satu bagian dari ilmu sosiolinguistik, one of my favorite subject.
Tak berselang waktu lama, kopi pesananku datang. Sebenarnya sih aku mau nanya password wifi, tapi karena lagi-lagi canggung dan mikir “Masa iya nanya password wifi orang cuma pesan cappuciono harga 12K terus mau wifi-an sepuasnya”, akhirnya aku gak jadi nanya. Walupun sebenarnya itu normal-normal aja sih.
Ok lanjut ke kopi. Supprisingly, aku sedikit tercengan melihat tampilan muka kopi ku ini. Ternyata, aku yang katro dan ndeso ini baru tahu kalau cappucino itu kayak gini rupanya. Selama ini, aku cuman lihat di sosmed atau tv kopi yang sering di gambar-gambarin pake cream gitu.
Sebenarnya gak terlalu ngerti sih perbedaan latte dan cappucino, soalnya tampilannya yang begitu mirip. Tapi berdasarkan info yang kudapat dari google, perbedaan mendasar dua kopi ini itu ada di komposisi campuran dan teknik dari baristanya dalam meracik kopi. Hmm... Ya udahlah, yang penting sama-sama enak.
Disebelah cangkir kopi sudah tersedia satu sachet gula instan. Prediksi cocoklogi ku, kayaknya kopi ini agak bitter deh. Soalnya ngapain coba disediain gula sachet disini. Akhirnya, ku tuanglah setengah sachet gula itu. Maklumlah aku orangnya gak suka yang terlalu manis gitu. Sambil ku aduk-aduk, berfikir, aduh sayang banget gambarnya pohon palemnya jadi rusak deh.
Padahal belum juga di foto terus di upload ke instagram kayak gaya anak-anak muda kekinian. Tapi kalau difoto dulu, ketahuan dong kalau diriku jarang ke cafe. Wkwkwkw ๐Akhirnya, kuaduklah sang kopi.
Karena penasaran dengan rasanya, akhirnya kucoba seruput. “Sruttttt.....”.
Jidatku mengerut. “Busettt....., manis banget”, salah prediksi nih.
Karena gak mau rugi, ya udah lah paksa minum deh tu kopi.
Sambil menikmati minuman yang kemanisan, kubaca buku yang ku keluarin tadi dan sesekali menikmati panormana indah lautan ciptaan Allah swt.
Rasa-rasanya memang alam semesta ini diciptakan dengan sebegitu indahnya bukan hanya supaya kita manusia punya objek selfie yang mendukung. Tapi, memang alam ini dibuat agar kita manusia senantiasa berdzikir alias mengingat dengan memuji keagungan dan kebesaranNya. Masya Allah.
Setengah jam lebih berlalu, dan suara shalawat radio masjid sudah memanggil-manggil. Aku siap-siap mau bayar kopi. It’s Adzan. Aku mengamati sekeliling, dan bad luck nya adalah hampir semua dari pengunjung kafe yang kebanyakan cowok itu belum bergerak dari tempat duduknya. “Mereka pura-pura gak dengar adzan atau gimana?”, tanya ku yang juga akan beranjak dari tempat duduk.
Aku tunggu satu, ..dua....tiga... menit. Dan mereka masih stay tune dengan laptop dan smartphone nya. Hanya satu dua orang yang terlihat mulai bergerak meninggalkan tempat. Termasuk senior ku yang dosen itu sama satu orang cowok yang kayaknya sih pegawai di cafe itu.
“Oh my goodness, mereka ini kayaknya udah kena negative impactnya teknologi. Padahal mah WiFi an nya masih bisa lanjut habis shalat kan ya.”, kata ku dalam hati sambil ngeliatin mereka semua yang sepertinya tidak ada tanda-tanda pergerakan dari tempat duduknya.
Aku gak kebayang, Let's say mereka ini adalah nol koma sekian persen pemuda Islam yang ninggalin shalat gara-gara udah pewe-an nge wi-fi, can't imagine berapa sekian persen kemudian yang ada di luaran sana yah yang melaksanakan hal / habit yang sama.
Setelah bayar kopi di kasir, diriku pun cabut untuk mencari mesjid yang terdekat dari warnet langganan. Di tengah perjananan, aku sempat berfikir sambil berusaha merenungi diri sendiri. Emang kita punya apa sampai tega gitu nyuekin Allah yang udah kasih kita mata, telinga, hidung, mulut, dan ratusan nikmatNya lain yang tak terhitung.
Aku berkata seperti ini bukan karena aku orangnya Shaleha atau taat yah. Justru karena aku juga kayak gitu, terus merasa bahwa aku ini punya dosa yg gak keitung, dan hanya Allah saja yang tahu aib dan buruknya diriku, makanya aku Shalat.
Kita shalat bukan karena kita shaleh atau shaleha. Itu perintah dari Allah. Gak peduli kita nya udah baik apa belum. Kalau shalat kita baik dan berusaha menyempurnakannya, insya Allah hidup kita pun juga kena dampaknya, begitupun sebaliknya.
For your information nih yah gaes, nabi Muhammad saw, udah jauh-jauh dari sidhratil muntaha menjemput perintah shalat ini. Satu-satu nya perintah yang Allah swt serah terimah kan langsung kepada nabi Muhammad tanpa mengandalkan perantara malaikat Jibril a.s. Bagi kita-kita yang sering baca sirah nabawiyah atau paling tidak sering ikut peringatan isra’ mi’raj pasti taulah cerita ini. Ayat nya ....
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha melihat" (Q.S.Al-Isra : 1). Dan penjelasan terusannya ....
Jangan hanya karena sayang sama kopi dan Wifi gratis, kita jadi mengabaikan panggilan Allah yang sudah memberi kita begitu banyak nikmat, dimana salah satunya adalah nikmat gelombang radio yang dengan itu kita bisa internatan tanpa batas sepuasnya. Dengan fasilitas kesehatan dan kelapangan waktu yang Allah berikan, sudah seharusnya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak shalat.
Walaupun sebenarnya sih dalam keadaan susah sekalipun kita juga tetap harus melaksanakan perintahNya. Yah contohnya saja kayak aku yang sekarang ini sedang sekarat nyusun bab akhir skripsi dan masih sempat-sempatin nulis blog. hahaha.... Ok.
Cukup sekian dulu isi blog ku. Penting gak penting, nyambung gak nyambungnya tulisan aku, ambil yang baik-baiknya yah vroh. Yang gak baik, plis buang jauh-jauh dan jadiin pelajaran. Contohnya sifat mager dan hobi ku nunda-nunda sesuatu. Semoga berkah dan bermanfaat. Salam skripsweet mahasiswa akhir.
(Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh )


Lovely. Keep dakwah ๐
BalasHapus