GHIRAH: SEMANGAT YANG TERUS MEMBARA

 

Ada sebuah kekuatan besar yang ternyata dimiliki oleh manusia yang hanya dianugerahkan kepadanya. Kekuatan yang menjadikan seorang yang bahkan lemah menjadi kuat, seorang yang bisa jadi ia pendiam tiba-tiba lantang berbicara, seorang yang mungkin awalnya biasa saja menjadi sangat murka. Apa itu? Ia adalah Ghirah. Dalam bahasa Arab ia berarti cemburu.

Namun cemburu yang dimaksud disini lepas dari perkara nafsu duniawi. Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Haqil dalam karya nya yang berjudul al-Ghirah Baina as-Syar'i wa al-Waqi', cemburu ialah kala seseorang menyaksikan sendi-sendi dan ajaran agama dilecehkan dan tidak diindahkan, hatinya tergugah dan berontak. Seorang mukmin sejati akan merasa cemburu dan tak nyaman, ketika melihat larangan-larangan Allah SWT justru banyak dilanggar.

Menurut nya, minimnya rasa cemburu itu dari seorang mukmin, menunjukkan lemahnya frekuensi iman yang dimiliki. Ghirah ini menjadi indikator, besarnya perasaan terikat seorang muslim terhadap agama nya. Jika Agama dicelehkan, dicela, dijadikan bahan candaan, bahkan diolok-olok, namun sikap nya justru fine-fine saja, maka dapat dikatakan Ghirah nya sangat lemah.

Naluri seorang muslim jika melihat suatu pelanggaran hukum syara terjadi, sebagai contoh ia melihat kemaksiatan merebak di depan matanya, lantas ia hanya diam dan memilih jalur netral, ini situasi yang sebenarnya sangat berbahaya bagi dirinya sendiri. Situasi yang justru lebih dekat pada sifat kemunafikan karena ketidakjelasan keberpihakan. Atau bisa jadi, karena asik dalam ketidaktaatan kepadaNya hingga melunturkan Ghirah dalam pribadi orang tersebut. Karena memang, menurut Ibn al-Qayim, dalam ad-Daa' wa ad-Dawaa' mengatakan, salah satu dampak perbuatan dosa, yakni memadamkan api kecemburuan dalam hati.

Namun, jika ia memiliki Ghirah ini, maka kekuatan (power) yang dimiliki seperti para sahabat, mujahid, dan para pembela agama Allah, tidak lah mustahil juga ada padanya. Kekuatan yang menjadikan abu bakar r.a yang notabene hatinya lemah lembut namun menjadi sangat tegas saat memerangi orang-orang yg menolak membayar zakat dan mereka yang murtad.

Seperti murkanya seorang Khalifah Al-Mu'tasim dalam kekhilafahan Abbasiyah, yang ketika ada seorang wanita muslimah dilecehkan di pasar saat kainnya dikaitkan di paku yang membuat auratnya kemudian tersingkap, hingga kemudian berita tentang wanita ini sampai pada sang Khalifah, lalu menurunkan pasukan nya untuk menyerbu kota ammuriah, dimana panjang pasukan nya bahkan tidak putus hingga gerbang istana Khalifah di Baghdad.

Demikian pula yg kita lihat beberapa tahun belakangan ini, saat peristiwa penghinaan ayat suci Alquran oleh seorang Pemimpin non-muslim cina, yang memancing amarah umat muslim seluruh Indonesia hingga terjadi aksi damai terbesar se-Asia tenggara.

Demikian lah yang terjadi saat muslim memiliki Ghirah itu. Hatinya akan merasa tidak tenang saat Agamanya di rendahkan. Hidup nya tidak nyaman, saat melihat hukum Allah tidak terterapkan. Dan kekuatan nya akan terus ia gunakan untuk dakwah ilallah hingga dg power (kekuatan) itu ia mampu merealisasikan sabda Rasulullah Saw: 

Dari
 Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Wallahu A'lam
Copyright @2018
Rahmayani @visit rahma

Source of picture
edited on @canva

Komentar

Postingan Populer