MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERKUALITAS
Ada sebuah rutinitas sederhana yang kami para guru (ditempat saya mengajar) sering lakukan paling tidak sekali dalam sebulan. Rutinitas itu adalah Meeting/Pertemuan yg membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan siswa, materi, hingga masalah personal guru-guru.
Tepat di pertemuan kemarin, Mr hamid, sang pimpinan rapat membahas salah satu topik yg berkaitan dengan masalah salah seorang guru. Beliau memberi nasihat tentang target yang teman saya ini ingin capai.
Beliau menekankan bahwa kita boleh saja memiliki target, tapi sisanya kita wajib serahkan ke Allah. Karena bisa saja kita telah mengusahakan, tapi variable/faktor lain, seperti orang lain menjadi sebab kita tidak mampu mencapai target itu.
Saat kita mengusahakan sesuatu, kita ikhtiarkan dg usaha yang terbaik, "Do your best" kata beliau. Tapi, untuk hasil nya bagaimana, kita serahkan semuanya pada Allah.
Saya merenungi kalimat ini berulang kali hingga rapat selesai. Benar bahwa manusia bisa mengusahakan yg terbaik, tapi tetap, Allah lah sang pendesain takdir manusia.
Jika kita meresapi makna kalimat ini dg cukup dalam, dan mengimplementasikan nya dalam kehidupan, Insya Allah hidup kita akan menjadi tenang
Seperti kata umar bin khattab:
Pelajaran yang kita ambil disini adalah tentang sifat tawakkal ilallah, tentu dg keimanan 100%. Mengapa? Jawabannya karena dalam berserah kepadaNya tidak boleh ada sedikitpun keraguan.
Dalam hidup kita dihadapkan banyak pilihan. Sebenarnya tugas kita bukan tentang sekedar mengambil pilihan lalu menyelesaikannya. Karena jika hanya demikian, lalu esensi hidup itu ada dimana?
Kita diberikan pilihan oleh Allah, diperintahkan untuk memilih jalan yang baik dan benar, lalu menjalani pilihan kita dengan Sebaik-baik nya hingga waktu yang ditentukan Allah untuk kita selesai di dunia
Ada yang diberikan usia oleh Allah hanya 20 tahun, atau 25 tahun, 30 tahun, dan lain sebagainya. Jika hasil kita dinilai dari kuantitas usia kita, tentu yg mati muda akan lebih rugi karena pahalanya lebih sedikit dari yg mati tua.
Tapi Allah tidak. Ia menilai kita dari kualitas hidup kita. Bukan target, bukan kuantitas, tapi seberapa berkualitas hidup kita selama di dunia. Olehnya maka tak heran, dalam sebuah hadits rasulullah saw bersabda:
Tepat di pertemuan kemarin, Mr hamid, sang pimpinan rapat membahas salah satu topik yg berkaitan dengan masalah salah seorang guru. Beliau memberi nasihat tentang target yang teman saya ini ingin capai.
Beliau menekankan bahwa kita boleh saja memiliki target, tapi sisanya kita wajib serahkan ke Allah. Karena bisa saja kita telah mengusahakan, tapi variable/faktor lain, seperti orang lain menjadi sebab kita tidak mampu mencapai target itu.
Saat kita mengusahakan sesuatu, kita ikhtiarkan dg usaha yang terbaik, "Do your best" kata beliau. Tapi, untuk hasil nya bagaimana, kita serahkan semuanya pada Allah.
Saya merenungi kalimat ini berulang kali hingga rapat selesai. Benar bahwa manusia bisa mengusahakan yg terbaik, tapi tetap, Allah lah sang pendesain takdir manusia.
Jika kita meresapi makna kalimat ini dg cukup dalam, dan mengimplementasikan nya dalam kehidupan, Insya Allah hidup kita akan menjadi tenang
Seperti kata umar bin khattab:
"Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang menjadi takdirku tidak akan pernah melewatkanku"
Pelajaran yang kita ambil disini adalah tentang sifat tawakkal ilallah, tentu dg keimanan 100%. Mengapa? Jawabannya karena dalam berserah kepadaNya tidak boleh ada sedikitpun keraguan.
Dalam hidup kita dihadapkan banyak pilihan. Sebenarnya tugas kita bukan tentang sekedar mengambil pilihan lalu menyelesaikannya. Karena jika hanya demikian, lalu esensi hidup itu ada dimana?
Kita diberikan pilihan oleh Allah, diperintahkan untuk memilih jalan yang baik dan benar, lalu menjalani pilihan kita dengan Sebaik-baik nya hingga waktu yang ditentukan Allah untuk kita selesai di dunia
Ada yang diberikan usia oleh Allah hanya 20 tahun, atau 25 tahun, 30 tahun, dan lain sebagainya. Jika hasil kita dinilai dari kuantitas usia kita, tentu yg mati muda akan lebih rugi karena pahalanya lebih sedikit dari yg mati tua.
Tapi Allah tidak. Ia menilai kita dari kualitas hidup kita. Bukan target, bukan kuantitas, tapi seberapa berkualitas hidup kita selama di dunia. Olehnya maka tak heran, dalam sebuah hadits rasulullah saw bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu)." HR.Tirmidzi no 946
Dari hadits diatas kita diingiatkan akan pentingnya "mind our deeds". Karena sebagai Muslim, adalah kewajiban mengetahui halal haram sesuatu ataupun tindak tutur kita.
Memang tidak mudah memberikan kesadaran diri untuk membuat setiap harinya berharga dimata Allah. Mengingat kita manusia hanyalah manusia biasa yang penuh salah dan khilaf yanh tak jarang mendahulukan nafsu diatas segalanya.
Namun sungguh Allah Maha Pemurah, Maha Pemaaf. Jika kita bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, maka insya Allah akan selalu Allah sediakan jalan bagi orang-orang yang memiliki niat murni karenaNya.
Memang tidak mudah memberikan kesadaran diri untuk membuat setiap harinya berharga dimata Allah. Mengingat kita manusia hanyalah manusia biasa yang penuh salah dan khilaf yanh tak jarang mendahulukan nafsu diatas segalanya.
Namun sungguh Allah Maha Pemurah, Maha Pemaaf. Jika kita bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri, maka insya Allah akan selalu Allah sediakan jalan bagi orang-orang yang memiliki niat murni karenaNya.
Dalam sebuah hadits dikatakan:
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR. Al Hakim).
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR. Al Hakim).
Semoga kita senantiasa berbenah untuk hidup yang jauh lebih berkualitas
ان شاء اللہ
Oleh : Rahmayani Ahmad @visit.rahma
Semoga Bermanfaat
Semoga Bermanfaat
@2020


Komentar
Posting Komentar